BENTUK PUISI
SURAT BUAT EGA
Ku kirim surat cinta walau tanpa alamat
Ku titipkan lewat rindu burung merpati yang terbang tinggi beserta harap
Sempat didalamnya kutuliskan perihal kerinduanku
Cinta dan sebuah ucapan maaf
Namun kiranya pada baris terakhir ku pinta janjimu yang seperti daun kering
Meski jarak yang kutempuh teramat jauh
Kesabaran menjadikan semuanya didepan mata
Ku kirim surat cinta ini tanpa cumbu rayu
Kata-kata menjadi asing seiring kepergianmu
Pecahan ombak membawa jauh dalam batinku
Pada akhirnya sebelum camar gelap keluar dari berita buruk
Aku sebenarnya sudah tahu
Dan sebenarnya telah berdiri di jasadmu yang kaku
Meyakinkan padamu bahwa sebenarnya kita telah berpisah
Sebelum suratku sampai padamu
BENTUK CERPEN
SURAT BUAT EGA
FLASHBACK
Hari ini, matahari berdiri dengan angkuhnya diatas sana, memandang segenap insan yang ada di bumi dengan tatapan menghina. Seolah dialah yang paling berkuasa, karena dialah yang paling menguarkan aura panasnya. Tanpa tahu, bahwa kini dua orang anak adam juga memiliki aura panas yang menguar dari tubuh mereka,yang seolah ingin menandingi panasnya pancaran aura panas sang mentari siang ini.
Dua manusia. Dua anak adam. Berdiri berhadapan dengan wajah yang melukiskan kemurkaan mereka. Rasa benci, sedih, kecewa dan rasa terkhianati terpancar jelas dari sepasang mata salah satunya. Sedangkan yang satunya terlukis jelas di mata coklatnya pandangan marah, keangkuhan, kemenangan, dan meremehkan.
Semua tahu. Dua orang yang kini sedang beradu pandang itu adalah orang yang memiliki ikatan yang kuat bernama persahabatan. Dan karena kejadian ini pula, semua tahu bahwa ikatan persahabatan diantara mereka telah terputus. Sebuah pengkhianatan, sebuah kedustaan, dan sebuah persaingan yang terjadi diantara keduanya membuat komponen-komponen itu berubah menjadi besi tajam yang memutuskan ikatan persahabatan yang dusta itu. Kenapa dusta? Karena di salah satunya, mengkhianati perasaan satunya lagi.
“ BRENGSEK !! Seharusnya aku sadar dari dulu bahwa kau itu hanya pembohong besar yang bersembunyi di bawah bayang persahabatan kita. Salah aku menganggapmu sebagai sahabat bahkan bagai saudara sendiri.” Teriak salah satu dari dua pria tampan itu. Rambutnya yang pirang jabrik tampak acak-acakan, kulitnya yang sedikit kecoklatan karena sering terbakar panas sang mentari terlihat memerah dominan dibagian wajahnya menampakkan seberapa kuatnya dia menahan emosinya yang meletup-meletup saat ini, mata coklat yang biasanya terlihat berbinar-binar kini terlihat sedang memelototi lawan bicaranya, dan mulutnya yang biasanya juga sering memamerkan cengiran khasnya dengan deretan gigi-gigi putih yang berderet rapi, kini tampak sedang menggigit bibir bawahnya mencegah untuk tidak berkata lebih kasar lagi pada lawan bicaranya.
“Kau memang salah. Sejak awal, hanya kau yang menganggap kita sebagai sahabat. sedangkan menurutku, kita adalah rival.” Ucap seorangnya dengan nada bicara yang amat dingin. Namun panas amarah juga menguar disekitar pemuda itu. Seorang pemuda yang memang lebih tampan dibanding pemuda berambut pirang satunya. Rambut hitamnya dengan model emo bergerak tertiup angin yang mendadak datang seolah ingin memberikan sedikit ketenangan diantara keduanya, mata hitamnya yang tajam tak lepas memandang si pemuda pirang, kulit putihnya sedikit memerah didaerah wajahnya-entah karena sinar terik sang mentari atau karena dia sedang menahan amarahnya, dan bibirnya seperti biasa menyunggingkan seringaian tipis yang ditujukan pada pemuda pirang itu. Pemuda cool, tampan, kaya dan pintar dengan sederet wanita penggemarnya membentuk pribadi yang arogan, egois dan angkuh. Sungguh bertolak belakang dengan sifat si pemuda pirang yang ceria, suka melawak, gampang bergaul, bersemangat dan tentu saja banyak wanita yang mengidolakannya.
Si pemuda cool, RIO memandangi si pemuda pirang, MIKE dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“ aku tidak pernah habis pikir, mengapa bisa-bisanya EGA menyukaimu? Aku serasa ingin tertawa terbahak-bahak saat mendengar kau dan EGA berpacaran,awalnya. Tapi, satu yang harus kau ingat sekarang. EGA, milikku sekarang. Dia tunanganku, kami sudah dijodohkan. Bahkan EGA sendiri tidak dapat menolak perjodohan ini. Akui saja, kau kalah dariku.” Perkataan panjang lebar dari mulut RIO yang bahkan jarang sekali mau berbicara jika tidak perlu, semakin memancing amarah MIKE.
“ aku tidak menyangka kau dapat berkata seperti itu. Selama ini aku menganggapmu sebagai sahabat bukan sebagai rival. Jadi, aku tidak perlu mengakui kekalahanku ataupun kemenanganku.” Jawab MIKE dengan nada bicara yang terdengar sangat kecewa.
“ Yang perlu kau akui itu, hanya kekalahanmu. Bukan kemenanganmu.” RIO mengakhiri kata-katanya dengan senyuman meremahkan. Tampak MIKE ingin membalas kata-kata pahit RIO sebelum sebuah suara yang mengakibatkan pertengkaran kedua sahabat ini memecah konsentrasi mereka.
“RIO ! MIKE ! Apa yang kalian lakukan? Kalian tidak malu,hah? Menjadi tontonan mereka semua?” EGA, menunjuk semua mahasiswa yang berkumpul di lapangan basket kampus itu yang sedari tadi menonton aksi adu mulut dua orang itu. “ ku kira kalian laki-laki yang punya malu.” Lanjut EGA.
“EGA” panggil MIKE dengan nada bicara yang berubah lembut katika memanggil nama orang ini.
“Kau tahu,MIKE. Kita sudah putus. Dua minggu yang lalu, kalau kau lupa. Aku akan segera bertunangan dengan RIO minggu depan. Tolong, mengerti aku.” Pandangan mata EGA, cewek manis berambut coklat itu begitu sendu, matanya yang senada dengan warna rambutnya tampak membendung air mata yang nyaris tertumpah, kulitnya yang mulus tampak sangat pucat, bibirnya yang biasanya cerah juga tampak pucat.
“ Aku dan RIO akan segera pindah dari kampus ini dan ….. kota ini. Dan tentu saja acara pertungangan kami tidak dilakukan di kota ini. Maaf baru memberitahumu.”
Sesaat, MIKE tampak kehilangan kata-katanya saat mendengar secara langsung informasi yang sangat mengejutkan dari EGA, orang yang dicintainya. “ Kapan kau akan pergi?” sungguh, pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang sesungguhnya ingin ditanyakan MIKE. Tapi, entah mengapa mulutnya mendustainya.
EGA tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan MIKE. Dia mengira MIKE akan bertanya soal alasan lebih jelasnya tentang masalah ini. Tapi yang didengar EGA adalah pertanyaan yang seolah-olah MIKE memang sudah rela melepaskannya, padahal baru saja dia berdebat dengan sahabatnya sendiri, karena dia.
Melihat EGA yang sepertinya tak mampu menjawab pertanyaan MIKE, RIO mengambil alih.
“ Hari ini, tepatnya pukul 2 pesawat kami sudah take off . Karena itu, kami tidak banyak waktu untuk meladenimu. Kita perrgi sekarang, EGA.” Setelah mengatakan ini, RIO menggandeng erat tangan EGA seolah memberikan kekuatan pada gadis itu.
MIKE memandangi langkah menjauh dua orang yang berada didepannya. Sesaat dia tidak tahu ingin mengatakan apa kepada dua orang tersebut, lalu . . . . “Semoga kalian bahagia. Aku do’a kan”
Langkah EGA sesaat terhenti mendengar ucapan MIKE,laki-laki yang pernah ia cintai dan mungkin akan selalu ia cintai. RIO yang menggandeng tangan EGA juga ikut berhenti. Dia memandangi gadis disebelahnya itu dengan tatapan sendu, sungguh tatapan yang sangat jarang ditampakkan oleh pemuda sedingin dia. “ Kau baik-baik saja? Dari awal aku sudah bilang, bahwa idemu ini sangat gila. Ini hanya melukaimu.” Bisik RIO pelan dengan nada lembut kepada EGA.
EGA mengalihkan pandangannya dari jalanan didepannya ke wajah RIO, menatap mata lelaki itu. “aku tidak apa-apa.” Dan perlahan cairan bening yang sekuat tenaganya ia tahan akhirnya dengan mulus meluncur keluar dari pelupuk matanya. “kita pergi.” Lanjutnya.
END FLASHBACK
MIKE’S POV
Kau tahu, EGA? Aku sempat ingin sekali tertawa mendengar cerita sebenarnya dari sandiwara kalian berdua, kau dan RIO. Pertunangan kalian yang kalian katakan itu hanya sebuah kebohongan yang menjadi masalah utama dalam drama kalian ini. Kebohongan kalian tentang kau bertunangan dengan RIO, kakak sepupumu.
Seharusnya aku tahu dari awal, bahwa kalian hanya bersandiwara. Kalian benar-benar pelakon yang jenius. Tentu saja, kalian yang berasal dari jurusan seni teater pasti dengan mudahnya bermain peran, apalagi kalian adalah yang berprestasi. Aku benar-benar merasa seperti dibohongi mentah-mentah.
Kau membuat cerita ini agar aku dapat melupakanmu. Kau yang mengkhianati cinta kita dengan sahabat kekasih sendiri, kau pikir dapat membuatku dapat dengan mudah melupakanmu? Kau salah besar. Kau melakukan ini untuk menghindariku agar aku tidak tahu dengan keadaanmu. Bahwa kau menderita penyakit kronis. Dokter memberitahumu bahwa hidupmu hanya tinggal beberapa minggu saja. Sekeras usahamu untuk membujuk RIO melakukan sandiwara ini denganmu, tapi kau tidak bisa mencegahnya untuk mengatakan semua kebenaran ini padaku. Walau terlambat.
‘ EGA melakukan ini karena dia tidak ingin membebanimu. Dia mengira dengan membuat sandiwara ini, kau dapat dengan mudah melupakannya. Dan aku, tidak dapat berbuat banyak untuk mencegahnya. Dia terlalu keras kepala. Dan aku juga tidak dapat menolak permintaannya untuk melakukan ini. Bagaimanapun juga, EGA sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri, kau tahu itukan? Mengingat kenyataan bahwa hidupnya tinggal menghitung hari saja, aku tidak dapat menolak permintaannya apalagi dia bilang…..ini adalah permintaan terakhirnya.’
Kata-kata RIO saat menjelaskan hal itu padaku terus berputar dalam otakku, saat dia menghubungiku ketika kau sedang dalam ambang kematian.
Hah, berarti surat rindu yang aku tulis untukmu itu tidak pernah sampai padamu. Padahal, itu adalah surat cinta pertamaku. Surat sederhana dengan kertas kecil panjang yang dapat digulung agar dapat di ikatkan dikaki burung merpati yang pernah kita beli bersama dulu. Kau membeli yang betina dan aku membeli yang jantan.
Melepas burung merpati itu terbang untuk menemui pasangannya yang telah ditakdirkan agar dapat membawa sekalian suratku yang berisi kerinduan akan dirimu dengan kata-kata tulus. Bukan surat romantic, karena aku bukanlah lelaki dengan sejuta kata-kata indah yang membentuk serangkaian romantisme. Dan sadar bahwa suratku tidak akan pernah sampai padamu.
Sesaat ini, aku teringat akan janjimu. Janji untuk selalu bersamaku. Dan kini, aku sadari bahwa janjimu itu hanya bagaikan daun kering. Daun kering yang gugur dari pohonnya dan jatuh ketanah. Menjadi sampah yang lalu tertiup angin menghembuskannya pergi jauh tanpa bisa kembali.
Apa kau tahu,EGA? Apa kau dapat melihatnya? Kini aku sudah berada disampingmu. Kembali kesisimu, walau terlambat. Aku terduduk berlutut disampingmu menggenggam tangan dinginmu yang pucat sambil ……menangis. Aku tidak peduli sekarang, dengan kata-kata bahwa ‘laki-laki tidak boleh menangis’.
*salah satu tugas memparafrasakan puisi *